Santri Dayah
Dayah Darul Munawwarah "Siap Mencetak Ulama Modern yang Menjadi Cahaya di Era Digital"
Keterangan Foto: Para santri Dayah Darul Munawwarah yang sedang istirahat di Mesjid, karena kekurangn Asrama.
PIDIE JAYA – Peunawa.Com
Di tengah derasnya arus globalisasi dan revolusi digital, Pondok Pesantren Dayah Darul Munawwarah tetap tegak berdiri sebagai benteng pendidikan Islam yang relevan dengan zaman. Berlokasi di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Banda Dua, Kabupaten Pidie Jaya, pesantren yang didirikan sejak tahun 1966 oleh almarhum Tgk. H. Usman Ali (Abu Kuta Krueng).
Dayah ini kini bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang siap mencetak ulama yang tidak hanya menguasai ilmu agama klasik, tetapi juga ahli agama yang memiliki kemampuan sesuai dengan kemajuan teknologi.
Nama "Darul Munawwarah" sendiri dipilih dengan harapan mendalam agar para lulusannya kelak dapat menjadi cahaya penerang, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi masyarakat luas. Visi ini semakin diperkuat di era modern, di mana tantangan pendidikan jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu.
Menjawab Tantangan Zaman dengan Literasi Digital
Dr. Arizqi Ihsan Pratama,salah satu Dosen Universitas Darunnajah Jakarta, yang menyoroti pentingnya adaptasi pesantren di tengah perubahan sosial yang cepat. Menurutnya, pesantren tidak boleh hanya bertahan sebagai penjaga tradisi, tetapi harus tampil sebagai pelopor perubahan.
"Era digital telah mengubah cara manusia belajar dan berinteraksi. Kecerdasan buatan, media sosial, dan big data menciptakan kebutuhan kompetensi baru. Santri masa kini tidak cukup hanya menguasai kitab kuning, tetapi juga perlu memiliki literasi digital yang kritis dan produktif," ujar Arizqi.
Penguasaan teknologi dinilai krusial agar santri dapat berkontribusi lebih luas dalam bidang pendidikan, ekonomi, hingga dakwah digital, sekaligus menjawab krisis moral dan lunturnya nilai-nilai sosial akibat individualisme.
Merespons tuntutan tersebut, Dayah Darul Munawwarah terus berbenah tanpa menggeser prinsip dasarnya. Tgk. Zulkarnaini S.Pd.I, M.H., Sekretaris Umum Pondok Pesantren Darul Munawwarah, menjelaskan bahwa pondok menerapkan metode pendidikan berbasis kitab kuning yang berjenjang dan terstruktur.
"Kami menerapkan Kurikulum Ganda yang menggabungkan ilmu agama (dirasah Islamiyah) dengan kurikulum nasional dari Kemendikbud/Kemenag. Tujuannya adalah mencetak ahli agama (mutafaqqih fiddin) yang mampu menghadirkan wajah Islam yang wasathiah (moderat), damai, dan menjadi solusi bagi tantangan zaman," ungkap Tgk. Zulkarnaini saat ditemui pada Selasa (1/9/2026).
Membludaknya Minat Dari Masyarakat walaupun masih Keterbatasannya Fasilitas
Terus berkomitmen Dayah Darul Munawwarah dalam menjaga kualitas pendidikan ternyata mendapat respons luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat. Jumlah santri terus meningkat pesat setiap tahunnya, bahkan saat ini telah mencapai lebih dari 5.000 santri dan santriwati. Mereka berasal dari berbagai kabupaten/kota di Aceh hingga luar negeri.
"Animositas masyarakat Aceh sangat tinggi terhadap dayah kami. Bahkan, karena sudah mencapai kapasitas penuh (full capacity), kami terpaksa menolak sebagian calon santri," kata Tgk. Zulkarnaini.
Namun, lonjakan jumlah santri ini membawa konsekuensi berupa keterbatasan fasilitas. Saat ini, dayah kekurangan ruang belajar dan asrama. Dari 200 ruang kelas yang ada, jumlahnya masih kurang memadai, sehingga beberapa asrama terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang belajar demi kelancaran program pembelajaran.
Berikut ini REKAP JUMLAH SANTRI, MAHASANTRI, USTAZ/USTAZAH, MUHADHIR/DOSEN, Di DAYAH DARUL MUNAWWARAH KUTA KRUENG
TAHUN ajaran 2025–2026, untuk jenjang Wusta putra 703, putrinya 347 dengan Jumlah 1.050. Jenjang Ulya putra 1.737, putri 907, jumlah 2.644. Sedangkan jenjang Ustaz / Ustazah putra 270, putri 146, jumlah 416. Mahasantri Ma’had Ali. S-1, putra 623, putri136, jumlah 759. Sementara itu Muhadhir/Dosen, putra 36, putri 1, jumlah 37," jelasnya.
Tgk. Zulkarnaini, mengungkapkan Selain ruang kelas, fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) juga menjadi kendala. Jadwal mandi harus dilakukan secara bergantian antar-asrama karena ketersediaan MCK yang belum mencukupi. Pihak pondok mengakui bahwa meski telah membangun beberapa unit MCK baru tahun ini, kebutuhan tersebut masih belum sepenuhnya terpenuhi, "ungkapnya.
Terbuka untuk Dukungan dan Kolaborasi
Meski menghadapi keterbatasan infrastruktur, pihak Dayah Darul Munawwarah mengucapkan terima kasih atas bantuan pembangunan gedung dan asrama yang selama ini diberikan oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh. Namun, mengingat kebutuhan yang mendesak, pihak pondok secara terbuka mengundang partisipasi dari berbagai pihak.
"Kami menerima uluran tangan dari siapa saja, baik donatur maupun pihak lain yang ingin membantu pembangunan gedung, ruang kelas, maupun asrama bagi putra dan putri yang sedang menuntut ilmu di sini," tutup Tgk. Zulkarnaini.
Dengan semangat untuk terus menjadi "cahaya" di zaman modern, Dayah Darul Munawwarah berharap dukungan bersama dapat mewujudkan fasilitas pendidikan yang lebih layak, sehingga generasi ulama masa depan dapat lahir dengan kompetensi yang mumpuni dan akhlak yang mulia. ( samsul )
Via
Santri Dayah
Post a Comment